Pandeglang, AINews.com – Puluhan tahun merdeka, akses transportasi yang layak nampaknya masih menjadi mimpi mewah bagi warga yang berada di perbatasan Kecamatan Cibitung, Pandeglang banten dan Kecamatan Cikeusik, khususnya yang menghubungkan Desa Kutakarang, dan Desa Tanjungan.
Hingga saat ini, warga di wilayah Muara Mantiung masih harus mengandalkan perahu kayu tradisional atau rakit bambu untuk beraktivitas sehari-hari. Mulai dari mengangkut hasil bumi, urusan administrasi, hingga anak-anak yang hendak pergi sekolah, semuanya harus bertaruh keselamatan melintasi sungai yang lebar.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Sabtu (18/04/2026), terlihat warga harus bersusah payah memikul beban berat ke dalam perahu kecil. Kondisi ini tidak hanya berisiko tinggi saat arus sungai deras, tetapi juga menjadi penghambat utama roda ekonomi warga.
“Kami sangat mendambakan jembatan permanen. Kalau pakai perahu seperti ini, biaya angkut jadi mahal dan waktu kami habis di jalan. Apalagi kalau cuaca buruk, kami sering terisolasi,” ujar salah seorang warga setempat.
Titik koordinat lokasi yang berada di Lat -6.84547 Long 105.766672 ini merupakan jalur vital yang menghubungkan dua wilayah kecamatan. Tanpa adanya jembatan, konektivitas antar-desa ini seolah terputus oleh jeratan infrastruktur yang belum tersentuh pembangunan maksimal.
Kebutuhan masyarakat saat ini meliputi: Pembangunan Jembatan Penghubung: Sebagai akses utama kendaraan roda dua maupun roda empat.
Perbaikan Jalan Akses: Agar distribusi hasil pertanian dari Desa Kutakarang menuju pasar di Cikeusik bisa lebih cepat.Keamanan Transportasi: Mengurangi risiko kecelakaan air bagi anak sekolah dan lansia.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Pandeglang maupun Pemerintah Provinsi Banten dapat meninjau langsung kondisi di Muara Mantiung. Pembangunan jembatan ini dinilai bukan sekadar proyek fisik, melainkan urat nadi kehidupan yang akan mengangkat derajat ekonomi dan pendidikan warga di pelosok Cibitung dan Cikeusik.
“Jangan sampai kami hanya melihat pembangunan di kota, sementara di sini kami masih harus berkubang lumpur dan bertaruh nyawa di sungai setiap hari,” pungkasnya. (Wa”n)

