Oleh: Firman Habibi(Ketua HIMAKOM Periode 2024-2025 & Mahasiswa Universitas Mathla’ul Anwar Banten)
Lebak, AINewa.com – Muktamar ke-21 Mathla’ul Anwar yang baru saja usai digelar di Serang pada 11-13 April 2026 bukan sekadar seremoni organisasi lima tahunan. Bagi kita yang tumbuh dan besar dalam rahim pendidikan ini, Muktamar tersebut adalah kompas yang menentukan arah pengabdian Mathla’ul Anwar (MA) dalam menjawab tantangan zaman yang kian kompleks.
Sebagai seorang mahasiswa yang dididik dan dibesarkan oleh lingkungan MA—mulai dari bangku Madrasah Ibtidaiyah hingga kini menempuh studi di Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten—saya merasakan betul bagaimana nilai-nilai khittah MA telah mendarah daging. Muktamar kali ini membawa harapan besar agar organisasi ini semakin modern, mandiri, dan berdaya saing global tanpa meninggalkan jati dirinya.
Jejak Historis: Menes, Malingping, dan Lebak Selatan Berbicara kemajuan MA tidak bisa dilepaskan dari akar sejarahnya. Kita tahu bahwa sejarah MA di Menes memiliki ikatan batin dan emosional yang sangat kuat dengan wilayah Lebak Selatan, khususnya Malingping. Para pendahulu kita telah meletakkan batu pertama perjuangan di bidang dakwah dan pendidikan secara beriringan di kedua wilayah ini.
Lebak Selatan bukan sekadar wilayah geografis, melainkan basis perjuangan tempat para tokoh MA terdahulu menyebarkan cahaya ilmu. Maka, hasil Muktamar ke-21 ini harus mampu menggaungkan kembali semangat tersebut. Kita berharap ada percepatan pembangunan dan penguatan mutu pendidikan di wilayah selatan Banten agar setara dengan wilayah lainnya.
Sebagai representasi mahasiswa melalui Himpunan Mahasiswa Komunikasi (HIMAKOM), saya melihat beberapa poin krusial yang perlu menjadi fokus pasca-Muktamar:
1. Transformasi Pendidikan: Menjadikan lembaga pendidikan MA di Lebak Selatan sebagai pusat keunggulan (center of excellence) yang mampu mencetak lulusan yang cakap teknologi namun tetap memegang teguh nilai moral.
2. Sinergi Dakwah Kontemporer: Dakwah di Lebak Selatan harus mulai merambah dunia digital untuk merangkul generasi Z dan Alpha, tanpa meninggalkan metode dakwah bil-hal yang telah lama dipraktikkan.
3. Kemandirian Ekonomi Organisasi: Mendorong penguatan UMKM dan potensi lokal di wilayah selatan sebagai motor penggerak organisasi.
Bagi saya, Mathla’ul Anwar bukan sekadar tempat menuntut ilmu; ia adalah rumah tempat saya dibentuk. Saya mengajak seluruh rekan Mahasiswa dan kader di Lebak Selatan untuk mengawal hasil Muktamar ini dengan aksi nyata.
Mari kita pastikan bahwa matahari Mathla’ul Anwar tidak hanya terbit dari Menes, tetapi cahayanya harus terpancar terang hingga ke pelosok Lebak Selatan, membawa kemajuan bagi agama, bangsa, dan negara. Fastabiqul Khairat.
(Hn)

