Lebak, AINews.com – Pagi di halaman SDN 1 Cipalabuh, Kecamatan Cijaku Kabupaten Lebak Banten, selalu dimulai dengan suara sapu yang menyapu pelan. Di antara embun yang belum sepenuhnya hilang, sosok Suardi (60) sudah lebih dulu hadir, menata hari sebelum lonceng sekolah berbunyi.
Di usia yang tak lagi muda, Suardi tetap setia menjalankan tugasnya sebagai petugas kebersihan. Menariknya, ia memang memulai pekerjaan ini ketika usianya sudah tidak muda lagi. Lima tahun lalu, saat kebanyakan orang mulai mengurangi aktivitas fisik, Suardi justru mengambil tanggung jawab baru sebagai penjaga kebersihan sekolah.
Langkahnya mungkin tak secepat dulu, tetapi ketelatenannya tak pernah berkurang. Dengan sapu lidi di tangan dan ember di sisi, ia membersihkan halaman, merapikan ruang kelas, hingga memastikan setiap sudut sekolah terasa nyaman bagi anak-anak.
“Kalau sekolah bersih, anak-anak juga jadi semangat belajar,” ujarnya pelan, sembari berhenti sejenak mengusap keringat di dahi, saat ditemui awak media disela aktivitasnya, Sabtu (18/4/2026).
Kalimat sederhana itu mencerminkan keyakinan yang ia pegang selama lima tahun mengabdi.
Namun Suardi tidak berjalan sendiri. Di balik rutinitas paginya, ada sosok lain yang setia mendampingi, Ibu Sar’ah istrinya. Sebelum memulai aktivitas berdagang jajanan untuk anak-anak sekolah, sang istri terlebih dahulu membantu Suardi menyapu halaman, mengumpulkan dedaunan, hingga merapikan lingkungan sekolah.
Di pagi yang masih lengang, keduanya kerap terlihat bekerja berdampingan. Tanpa banyak kata, mereka saling memahami peran masing-masing. Sapu demi sapu diayunkan bersama, seolah menjadi bahasa cinta yang sederhana namun penuh makna.
“Ya, namanya juga bantu suami. Biar cepat selesai,” tutur sang istri singkat, sembari tersenyum hangat. Setelah pekerjaan itu rampung, barulah ia menata dagangan kecilnya—jajanan yang selalu ditunggu anak-anak saat waktu istirahat tiba.
Kehadiran pasangan ini menghadirkan nuansa berbeda di sekolah SDN 1 Cipalabuh. Mereka bukan hanya bekerja, tetapi juga merawat ruang belajar dengan kebersamaan yang tulus.
Suardi bukan sekadar petugas kebersihan. Ia adalah penjaga suasana, saksi tumbuhnya generasi demi generasi. Dari anak-anak yang dulu datang dengan seragam kebesaran hingga kini kembali sebagai orang tua murid, Suardi tetap setia berada di tempat yang sama—menyambut pagi dengan sapu dan senyum.
Namun, pengabdian itu tak selalu berjalan seiring dengan kesejahteraan. Insentif yang ia terima jauh dari kata cukup, terlebih di usia senja ketika kebutuhan hidup semakin banyak. Meski begitu, Suardi memilih bertahan.
“Bukan soal besar kecilnya uang,” katanya lirih. “Saya sudah merasa bagian dari sekolah ini. Kalau saya tidak datang, rasanya ada yang kurang.”
Ada ketulusan yang sulit diukur dalam setiap gerakan tangannya. Ketika ia menyapu dedaunan yang jatuh, sesungguhnya ia sedang merawat ruang belajar anak-anak sekolah. Ketika ia mengepel lantai kelas, ia sedang memastikan mereka belajar dalam lingkungan yang layak.
Ade Cahya, S. Pd, selaku Kepala sekolah SDN 1 Cipalabuh tak memungkiri peran besar Suardi. Baginya, Suardi bukan sekadar pekerja, melainkan bagian dari keluarga besar sekolah.
“Pak Suardi sudah lama bekerja sebagai petugas kebersihan di sekolah ini. Bahkan, sebelum saya menjadi kepala sekolah disini beliau sudah ada,” ujar Kepsek
“Pak Suardi itu luar biasa. Tidak pernah mengeluh, selalu datang lebih pagi dari siapa pun, Kami sering merasa, tanpa beliau, sekolah ini tidak akan serapi dan sehangat sekarang.” tambahnya.
Di sudut lain, anak-anak sering menyapanya dengan akrab. “Pak Suardi!” teriak mereka setiap pagi. Ia pun membalas dengan senyum, kadang disertai candaan kecil yang membuat suasana semakin hidup.
Sementara itu, di sela-sela waktu istirahat, sang istri mulai sibuk melayani anak-anak yang membeli jajanan. Dari hasil dagangan sederhana itulah, mereka menambah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Di balik kesederhanaannya, Suardi menyimpan kebanggaan. Baginya, melihat anak-anak belajar dengan nyaman adalah bayaran yang tak ternilai. Ia tak pernah meminta lebih, hanya berharap bisa terus bekerja selama tubuhnya masih mampu.
Hari-hari terus berjalan, usia terus bertambah. Namun, Suardi tetap berdiri di antara ruang-ruang kelas, ditemani kesetiaan sang istri, menjadi bagian dari denyut kehidupan sekolah di pelosok Kabupaten Lebak itu.
Di saat banyak orang memilih beristirahat di usia senja, Suardi justru memilih memulai pengabdian—dan menjalaninya dengan sepenuh hati. Bersama istrinya, ia mengajarkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk bekerja dengan tulus.
Dan setiap pagi, ketika matahari mulai menembus pepohonan, suara dua sapu kembali terdengar—berpadu dalam irama sederhana yang mengisahkan cinta, tanggung jawab, dan pengabdian yang tak mengenal usia.
(Endang.S)

