Di Tengah Keterbatasan, Warga Cimanyangray Menenun Harapan Lewat Gotong Royong Membangun Musala

Lebak, AINews.com — Di sebuah sudut Kampung Cimanyangray RT 004 RW 002, Desa Cimanyangray, Kecamatan Gunungkencana Kabupaten Lebak Banten, berdiri rangka bangunan sederhana yang menyimpan harapan besar. Bukan sekadar tumpukan batu dan semen, melainkan simbol kebersamaan, ketulusan, dan iman yang dirawat bersama oleh warganya.

Sejak sekitar satu bulan lalu, masyarakat setempat mulai membangun sebuah musala secara swadaya. Setiap hari, di sela-sela kesibukan mencari nafkah, warga meluangkan waktu untuk datang, membawa tenaga, dan menyumbangkan apa yang mereka mampu, entah itu tenaga, bahan bangunan, atau sekadar air minum untuk para pekerja.

Namun, perjalanan pembangunan ini tidaklah mudah. Hingga Kamis, 30 April 2026, progres pembangunan baru mencapai sekitar 35 persen. Hari itu, warga kembali melanjutkan pemasangan sebagian atap yang sebelumnya sempat tertunda karena keterbatasan material.

Ketua RT setempat, Karis, menuturkan bahwa pembangunan musala ini sepenuhnya bergantung pada kekuatan gotong royong warga. Tidak ada sumber dana besar, tidak pula bantuan tetap semuanya mengalir dari kepedulian masyarakat sendiri.

“Ini murni swadaya warga. Kami kerjakan semampunya, sesuai dengan dana yang ada. Kadang pekerjaan harus berhenti karena bahan habis. Tapi kami tidak menyerah,” ujarnya dengan nada penuh harap.

Di lokasi yang sama, Muhidin, tukang utama pembangunan, tampak tetap setia mengerjakan bagian demi bagian bangunan. Baginya, proyek ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bentuk ibadah.

“Warga di sini kebanyakan bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Jadi waktu untuk gotong royong terbatas. Tapi kalau sudah berkumpul, semangatnya luar biasa. Semua saling bantu tanpa diminta,” katanya.

Suasana kebersamaan begitu terasa. Anak-anak bermain di sekitar lokasi, para ibu menyiapkan konsumsi sederhana, sementara para pria bergantian mengangkat material. Tidak ada yang merasa lebih penting, semua bekerja dalam satu tujuan: menghadirkan rumah ibadah bagi kampung mereka.

Musala ini nantinya diharapkan menjadi lebih dari sekadar tempat salat. Ia akan menjadi pusat kegiatan keagamaan, tempat anak-anak belajar mengaji, ruang berkumpul warga, sekaligus pengikat ukhuwah Islamiyah di lingkungan tersebut.

Di balik keterbatasan yang ada, justru tumbuh kekuatan yang luar biasa. Gotong royong yang mungkin mulai jarang ditemui di beberapa tempat, di Kampung Babakan Kidul Cimanyangray justru menjadi napas kehidupan sehari-hari.

Kini, warga membuka pintu bagi siapa saja yang tergerak untuk ikut membantu. Bantuan, sekecil apa pun, diyakini akan sangat berarti dalam mempercepat penyelesaian pembangunan musala ini.

Harapan mereka sederhana: melihat musala itu berdiri utuh, menjadi tempat sujud, tempat doa-doa dipanjatkan, dan tempat kebersamaan terus terjaga.

Kisah dari Cimanyangray ini mengingatkan kita bahwa membangun bukan selalu soal seberapa besar yang dimiliki, tetapi seberapa kuat kebersamaan dijaga. Di sana, di tengah keterbatasan, warga membuktikan bahwa kepedulian dan tekad mampu mengubah sedikit demi sedikit menjadi sesuatu yang besar dan bermakna.

Endang.S

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *