Sebagai Kawasan Penyangga Ekologis, Lebak Minta Dana Infrastruktur dan Sambut HPN dengan Kampung Baduy

Lebak. AINews.com – Pemerintah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, mengajukan harapan untuk memperoleh dana afirmasi infrastruktur dari pemerintah pusat. Permintaan ini berdasarkan peran Lebak sebagai kawasan penyangga ekologis bagi Jakarta dan Banten, yang memiliki tutupan hutan signifikan serta menjadi bagian dari kawasan konservasi seperti Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang dikelola oleh Kementerian Kehutanan.

Konsekuensi dari kebijakan konservasi tersebut membuat pembangunan Lebak terbatas pada kawasan industri hijau saja, tidak seperti kawasan industri konvensional di Serang atau Cilegon.

“Oleh karena itu, kami berharap pemerintah pusat dapat memberikan dana afirmasi untuk pembangunan infrastruktur, seperti jalan,” ujar Asisten III Sekretariat Daerah (Setda) Lebak, Iyan Fitriyana, saat menerima kunjungan peserta Kemah Budaya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat di Aula Museum Multatuli, Lebak, Jumat (16/1/2025).

Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (DiskominfoSP) Kabupaten Lebak dr. Anik Sakinah, M.Si., Kepala Museum Multatuli Ubaidilah Muhtar, Ketua Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya PWI Pusat Ramon Damora, Ketua Departemen Kerja Sama Antar Lembaga PWI Pusat Kadirah, Sekretaris PWI Provinsi Banten Fahdi Khalid, Koordinator Kemah Budaya Kunni Masrohati, para pejabat lingkup Setda Lebak, serta wartawan dan sastrawan dari berbagai daerah.

Iyan Fitriyana juga memuji peran wartawan yang aktif memberitakan persoalan yang belum tertangani pemerintah daerah, salah satunya pada masa pandemi Covid-19 dengan menyebarkan informasi positif terkait vaksinasi dan kondisi wilayah yang membutuhkan perhatian lebih.

“Oleh karena itu, Bapak Bupati menyambut gembira dipilihnya Kabupaten Lebak, khususnya Kampung Baduy, sebagai destinasi wisata budaya dalam rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) yang tahun ini diselenggarakan di Banten,” ucapnya.

Mantan camat ini berharap para peserta Kemah Budaya dapat memahami kearifan lokal, cara hidup, serta adat istiadat masyarakat Baduy.

Mewakili PWI Pusat, Ramon Damora menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemkab Lebak dalam menyukseskan kegiatan Kemah Budaya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar. “Setelah mengikuti Kemah Budaya, para wartawan dan sastrawan akan menulis tentang Baduy. Karya-karya tersebut akan dibukukan dan diluncurkan pada puncak acara HPN, 9 Februari 2026, yang rencananya akan dihadiri Presiden Prabowo Subianto,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Pemkab Lebak menyerahkan cinderamata kepada perwakilan wartawan Novi Balga dan perwakilan sastrawan Rini Intama.

Setelah acara penyambutan, para peserta Kemah Budaya diajak berkeliling Museum Multatuli. Diketahui, Multatuli adalah nama pena Eduard Douwes Dekker, penulis novel Max Havelaar yang mengkritik sistem kolonialisme dan ketidakadilan di Hindia Belanda. Novel tersebut memicu perdebatan luas di Eropa dan menjadi salah satu pemantik kesadaran kaum bumiputra menuju kemerdekaan. (Red)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *