Lebak, AINews.com – Selasa, 28 April 2026 menjadi hari penuh makna di tengah duka yang menyelimuti keluarga Kiyai Dina, warga Kampung Cigemblong, Desa Cikaret, Kecamatan Cigemblong, Kabupaten Lebak Banten.
Musibah kebakaran yang sebelumnya melalap habis rumah mereka tak hanya menyisakan puing-puing, tetapi juga luka mendalam. Di antara keluarga tersebut, terdapat ananda Imron, siswa kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah Cirahong, yang turut merasakan pahitnya ujian hidup di usia belia.
Sebagai bentuk kepedulian, keluarga besar Madrasah Ibtidaiyah Cirahong hadir memberikan dukungan langsung kepada keluarga korban. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Sekolah MI Cirahong, Ibu Suti’ah, dengan penuh haru menyampaikan,
“Terimalah ini sebagai bentuk kepedulian, rasa simpati, dan usaha kami sebagai warga madrasah kepada ananda Imron (siswa kelas 2) khususnya dan kepada keluarga. Walaupun hanya sedikit, namun niat dan keinginan kami besar. Kami hanya bisa mendoakan semoga diberi kesabaran dan ketabahan, serta Imron tetap terus semangat belajar.” ujarnya.
Didampingi para guru, para siswa turut hadir membawa bantuan seadanya yang dikumpulkan bersama dengan penuh keikhlasan. Kehadiran mereka bukan sekadar menyerahkan bantuan materi, tetapi juga menghadirkan pelukan hangat dalam bentuk doa, semangat, dan kebersamaan yang menguatkan.
Suasana haru pun semakin terasa saat Kiyai Dina menyampaikan ungkapan terima kasihnya dengan suara bergetar, Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar Madrasah Ibtidaiyah Cirahong.
“Bantuan ini sangat berarti bagi kami, bukan hanya dari segi materi, tetapi juga dari perhatian dan kasih sayang yang diberikan. Semoga Allah membalas semua kebaikan Bapak/Ibu guru dan anak-anak semua.” paparnya.
Ucapan tersebut menggambarkan betapa dalamnya rasa syukur yang dirasakan di tengah ujian yang berat.
Kehangatan kebersamaan pun terasa begitu nyata. Di tengah keterbatasan dan kehilangan, hadirnya keluarga besar madrasah menjadi penguat, seolah menegaskan bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi cobaan ini.
Kegiatan ini bukan sekadar tentang memberi, tetapi juga tentang menanamkan nilai-nilai empati, kepedulian, dan kemanusiaan kepada para siswa. Dari peristiwa ini, tumbuh harapan agar kebersamaan dan tali silaturahmi antara madrasah dan masyarakat semakin erat.
Di balik abu yang tersisa, masih ada harapan yang menyala. Dan di balik kesedihan, hadir tangan-tangan tulus yang menguatkan membuktikan bahwa kepedulian sekecil apa pun, mampu menjadi cahaya yang menerangi kegelapan.
(Endang.S)

